Tampilkan postingan dengan label Jendela Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jendela Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Ternyata, Lelah itu Sangat Berharga


Sebenarnya siapa sih yang paling berjasa dalam keluarga? Pernahkah pertanyaan itu terlintas dalam benak Anda ketika penat mendera dan emosi memuncak? Ya, kelelahan memang kadang memicu emosi dan membuat ketajaman berpikir kita memudar. Terutama bila sudah menyangkut ego, tentang siapa yang lebih banyak berkontribusi.

Setiap orang pada dasarnya memang ingin diperhatikan dan dimengerti. Ketika kelelahan mendera dan ada pihak lain yang menuntut perhatian dari kita, di saat itulah ego dan keinginan menjadi satu. Memuncak dan menuntut timbal balik yang kita harapkan.

Namun, tariklah nafas sejenak dan perhatikan kembali, sebenarnya sebesar apa kebutuhan kita terhadap timbal balik dari orang lain tersebut.

Berteman dengan Lelah

Sebuah komentar menarik saya dapatkan dari seorang pedagang sayur yang sangat sederhana ketika seorang ibu bertanya kepadanya, apakah ia tidak lelah menjalani aktivitasnya. Sebab, selain sebagai seorang pedagang sayur yang sudah harus berbelanja di pasar sejak jam sepuluh malam dan mengemas aneka sayur-mayur hingga pagi menjelang lalu melayani pembeli, ia juga masih menggarap sawah miliknya sendiri. Ia berkata, “Orang hidup memang harus cape’ Bu, lha orang yang sudah meninggal saja masih cape’ menghadapi malaikat.”

Saya tersenyum mendengar ucapan si bapak penjual sayur tersebut. Namun, ada kesadaran lain yang menggelitik saat menyadari bahwa ada sesuatu yang bermakna lebih jauh dalam kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa, kelelahan memang begitu dekat dengan kita bahkan rasa lelah tak kenal henti menemani dalam pergulatan kehidupan. Namun, alangkah indahnya, bila kelelahan tersebut nantinya mengantarkan kita pada istirahat yang panjang dan menyenangkan di akhirat kelak.

Karena itu, bisakah kita “aminkan” dalam hati bahwa sesungguhnya kita membutuhkan semua kegiatan yang melelahkan itu. Bukan untuk siapa-siapa, bukan untuk orang lain tetapi untuk diri kita sendiri. Bahwa dengan seluruh aktivitas yang melelahkan itu, kita akan mendapatkan tabungan yang akan menjadi tiket istirahat dalam kehidupan yang kekal, juga dalam kebahagiaan yang kekal.

Bahwa, tak perlu menanyakan siapa yang paling keras bekerja untuk keluarga. Bahkan tak perlu menakar jasa siapa yang paling berharga untuk keluarga. Karena, sesungguhnya, kita justru harus bersyukur kita masih memiliki kesempatan dan diberi kesempatan oleh Allah dan orang-orang yang kita cintai untuk mengumpulkan bekal akhirat kita.

Bahkan, kita harus berterima kasih untuk setiap “jasa wajar” yang kita lakukan, orang-orang tercinta disisi kita tersebut justru membalasnya dengan cinta dan perhatian yang melimpah. Yang selama ini, mungkin masih seringkali luput terlihat.

Sungguh, sebenarnya kita tak membutuhkan timbal balik dari orang-orang yang begitu kita cintai karena memang sudah seharusnya begitulah kewajiban kita. Alangkah indahnya jika kita bercermin pada sikap Luth a.s. terhadap kaumnya dengan berkata;

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan aku sekali-kali tidak meminta upah atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’araa:180).

Hal senada juga ditegaskan oleh utusan-utusan-Nya yang lain seperti Nuh a.s, Syua’ib a.s. dan tentu Muhammad saw.

Sejatinya begitu pulalah kita. Apa yang kita usahakan di muka bumi ini untuk orang-orang yang kita cintai, sejatinya hanyalah untuk mengharapkan kebaikan dari Allah saja. Berterimakasihlah kepada mereka yang selama ini telah kita manfaatkan kehadirannya untuk mendapatkan kebaikan tersebut.

Sungguh, kehidupan di dunia ini hanyalah sebentar saja. Tataplah wajah-wajah orang yang kita cintai tersebut dan lihatlah betapa banyak kebaikan yang terpancar dari wajah mereka. Jadikanlah kehadiran mereka sebagai semangat yang terbesar dalam kehidupan kita. Keinginan mereka sebagai pemacu kerja-kerja terbaik kita, karena memang merekalah satu dari alasan-alasan terpenting dalam kehidupan kita.

Tumbuhkan semangat dalam keletihan yang mendera bahwa ada kenikmatan tersendiri yang menjadi bayaran. Sesuatu yang tak dapat dihitung dengan kalkulasi manusia. Bahwa, kelelahan itu sesungguhnya akan mendatangkan kebahagiaan, manakala kita melihat orang-orang yang kita cintai berbahagia. Bahwa kita tak akan bisa merasakan kebahagiaan sendiri, tanpa melihat orang-orang di sekitar kita berbahagia dari apa yang kita usahakan dan membuat kita kelelahan tersebut.
Kekuatan itu dari Allah

Walau demikian, kelelahan memang sesuatu yang wajar dalam kehidupan kita. Ada waktunya keletihan menjadi kelemahan yang membuat amal-amal kita menurun dan semangat meredup. Namun demikian, hanya keimananlah yang membedakan bagaimana seseorang menghadapi kelelahannya dan mengatasinya. Karena itu, sejatinya kekuatan itu memang hanya datang dari Allah saja. Yang mampu meneguhkan dan membuat langkah kita senantiasa terayun, meski dalam kondisi yang sangat menyulitkan sekalipun. Karena itu, Rasulullah yang mulia pun mengajarkan kita untuk senantiasa memohon kepada-Nya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas ra,

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keinginan yang berlebihan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari rasa takut dan kikir. Aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan paksaan orang yang menganiaya.” (HR.Bukhari)

Inilah teladan dari utusan-Nya yang tak pernah berhenti memberikan yang terbaik kepada ummatnya dan beribadah kepada Rabb-Nya disaat terlelah sekalipun.

Cintanya bahkan tak memudar saat sakit yang luar biasa mendera disakaratul mautnya. Alangkah indahnya bila teladan ini pun senantiasa menjadi pengingat kita di saat lelah dan emosi mulai memuncak. Karena Beliau pun mewasiatkan, “Siapa yang saat lemahnya tetap berada dalam sunnahku, maka dia telah beruntung. Sementara siapa yang beralih pada selain itu maka berati dia telah celaka.” (Musnad Imam Ahmad).

Kartika Trimarti, ibu rumah tangga tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 04 Juli 2012

Jangan Durhakai Anakmu


Pernah suatu ketika ada seorang bapak yang mengeluh kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab ra mengenai anaknya yang durhaka. Orang itu mengatakan bahwa putranya selalu berkata kasar kepadanya dan sering kali memukulnya. Maka, Umar pun memanggil anak itu dan memarahinya.

“Celaka engkau! Tidakkah engkau tahu bahwa durhaka kepada orangtua adalah dosa besar yang mengundang murka Allah? Bentak Umar.

“Tunggu dulu, wahai Amirul Mukminin. Jangan tergesa-gesa mengadiliku. Jikalau memang seorang ayah memiliki hak terhadap anaknya, bukankah si anak juga punya hak terhadap ayahnya?” Tanya si anak.

“Benar,” jawab Umar.

“Lantas, apa hak anak terhadap ayahnya tadi?” lanjut si Anak.

“Ada tiga,” jawab Umar. “Pertama, hendaklah ia memilih calon ibu yang baik untuk putreanya. Kedua, hendaklah ia menamainya dengan nama yang baik. Dan ketiga, hendaklah ia mengajarinya al-Quran.”

Maka, si Anak mengatakan, “Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak pernah melakukan satu pun dari tiga hal tersebut. Ia tidak memilih calon ibu yang baik bagiku; ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga dua dirham, lalu malamnya ia gauli sehingga ia hamil mengandungku. Setelah aku lahir pun ayah menamaiku Ju’al, dan ia tidak pernah mengajariku menghafal al-Quran walau seayat.”

Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan. Bisa juga diartikan seorang yang berkulit hitam dan berparas jelek atau orang yang emosional. (Lihat Al-Qamus Al-Muhith, hal. 977).

“Pergi sana! Kaulah yang mendurhakainya sewaktu kecil, pantas kalau ia durhaka kepadamu sekarang,” bentak Umar kepada si Ayah. (Disadur dari kuthbah Syaikh Dr. Muhammad Al-Arifi, Mas’uliyatur Rajul fil Usrah. Lihat Ibunda Para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, hal. 11-12.)

Pembaca budiman, satu hal yang perlu kita renungkan dari kisah di atas adalah; cobalah untuk menengok diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Bisa jadi, ada sesuatu yang salah pada diri kita.

Piilihkan Calon Ibu yang Shalihah

Hendaklah setiap muslim memilihkan bagi anak-anaknya seorang ibu muslimah yang mengenal hak Rabbnya, hak suami dan hak anak. Hendaklah ia memilihkan ibu yang mengenal tugas hidupnya. Seorang ibu yang mengenal posisinya di dalam hidup ini. Seorang ibu yang memiliki rasa kecemburuan terhadap agama dan sunnah Nabinya -sholallahu 'alaihi wasallam-.

Hal ini karena seorang ibu adalah madrasah yang akan meluluskan anak-anak Anda. Apabila ibu tersebut baik, maka ia akan menyusukan kebaikan dan ketakwaan. Namun bila ibu tersebut buruk, maka ia akan memberikan keburukan juga. Sebagai contoh nyata, Zubair bin ‘Awam. Ia merupakan hasil dari didikan ibundanya, Shafiyah binti Abdul Muththalib, sehingga ia pun tumbuh di atas tabiat dan budi pekertinya. Di kemudian hari, ia pun memilihkan calon ibu bagi anak-anaknya seorang wanita mulia, Asma binti Abu Bakar. Sehingga, ia pun melahirkan generasi orang-orang yang memiliki keagungan, Abdullah, Al-Mundzir dan ‘Urwah.

Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu 'anhu- dididik oleh dua wanita mulia; di waktu kecil ia bersama ibunya, Fathimah binti Asad dan ketika menginjak remaja ia bersama Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- .

Abdullah bin Ja’far adalah penghulunya bangsa Arab yang paling dermawan sekaligus pemuda Arab yang cerdas. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Maka ibunya, Asma binti ‘Umais berusaha untuk membesarkannya. Ia adalah sosok ibu yang memiliki keutamaan dan kecerdasan yang luar biasa.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah adalah orang yang pandai dan cemerlang. Ia telah mewarisi dari ibunya, Hindun binti ‘Utbah sesuatu yang tidak ia warisi dari ayahnya, Abu Sufyan. Hindun berkata ketika anaknya, Mu’awiyah berada di dalam dekapannya, “Apabila Mu’awiyah hidup dalam umur panjang, maka ia akan memimpin kaumnya.” Ia juga bertutur, “Celakalah kaumnya apabila tidak dipimpin seseorang dari kaumnya.” Kelak, bila Mu’awiyah -radhiyallahu 'anhu- memiliki kebanggaan dengan kemampuan dan keahliannya dalam berpendapat, maka ia selalu menisbatkannya kepada ibunya sehingga akan mengetarkan pendengaran musuh-musuhnya, seraya berkata, “Saya adalah anak dari Hindun.”

Abu Hafsh Umar bin Abdul Aziz termasuk raja yang paling menakjubkan, adil dan mulia. Ibunya, Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar bin Khaththab. Ia adalah orang yang paling sempurna di zamannya dan yang paling mulia. Ibunya adalah seorang wanita yang dinikahkah oleh Umar dengan anaknya, ‘Ashim. Tidak ada yang dibanggakan darinya baik dari segi harta maupun nasab kecuali perkataannya yang jujur ketika menesehati ibunya. Dialah yang menurunkan akhlak kakeknya Al-Faruq kepada Umar bin Abdul Aziz.

Pilihkan Nama yang Terbaik

Hendaklah seorang muslim memilih nama-nama yang terbaik dan terindah sebagai bentuk pelaksanaan atas apa yang telah ditunjukkan dan dianjurkan oleh Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-. Dari Abu Darda’ -radhiyallahu 'anhu-, ia berkata : Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّكُم تُدْعَونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُم وَأَسْمَاءِ آبَائِكُم فأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُم

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil di hari Kiamat dengan nama-nama anak kalian dan dengan nama ayah-ayah kalian. Maka perbaguslah nama kalian.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan)

Dari Ibnu Umar -radhiyallahu 'anhu-, ia berkata : Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللّهِ عَبْدُ اللّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَـنِ

“Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling disukai oleh Allah Azza wa Jalla adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya).

Ajarkan al-Quran kepada Anak

Dalam al-Quran terkandung sejumlah Tarbiyah Imaniyah. Yang dimaksud Tarbiyah Imaniyah adalah mengikat si kecil sejak ketergantungannya kepada pilar-pilar keimanan, membiasakannya sejak ia memahami rukun-rukun Islam, serta mengajarkannya pokok-pokok syariat Islam yang mulia semenjak masa tamyiz (mampu membedakan mana yang hak dan mana yang bathil)

Mengajarkannya pilar-pilar keimanan, seperti; iman kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan iman kepada para Rasul-Nya, mengimani adanya pertanyaan dua malaikat, adzab dan nikmat kubur, pembangkitan, surga dan neraka dan semua perkara-perkara yang ghaib.
Mengajarkan rukun-rukun Islam, seperti; shalat, puasa, zakat dan haji. Mengajarkannya dasar-dasar syariat Islam, seperti; peradilan Islam, hukum-hukum Islam, undang-undang dan peraturan dalam Islam.

Dari sinilah akan lahir beberapa hal, di antaranya:

Pertama, Hubbullah (cinta kepada Allah ta’ala). Yaitu dengan menunjukkan nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya kepada si kecil. Misalnya, bila si ayah duduk-duduk bersama si kecil ketika sedang makan seraya mengatakan kepadanya: ‘Nak, tahukah engkau siapakah yang telah memberikan makanan ini kepada kita?’

Si kecil akan menjawab: ‘Siapakah wahai ayah?’

Si ayah bertutur: ‘Allah’.

Si kecil balik bertanya: ‘Terus, bagaimana ayah?’

Maka si ayah menjelaskan: ‘Nak, karena Allah yang telah memberi rizqi kepada kita dan kepada semua manusia, maka bukankah Ilah ini yang berhak engkau cintai?’
Si kecil akan menjawab: ‘Tentu, ayah’

Seandainya si kecil sedang sakit, maka orangtua akan membiasakannya untuk selalu berdoa, seraya berkata: ‘Nak berdoalah kepada Allah semoga menyembuhkanmu, sebab Dia-lah yang memiliki penyembuhan’, lalu mendatangkan seorang dokter dan mengatakan: ‘Dokter ini hanya sekedar perantara saja, namun kesembuhan hanya datang dari Allah’. Apabila Dia mentaqdirkan kesembuhan bagi si kecil, maka orantg tua mengatakan: ‘Nak, bersyukurlah kepada Allah’, lalu menjelaskan kepadanya nikmat-nikmat Allah, sehingga si kecil akan mencintai-Nya, sebab Dia-lah yang telah mengaruniakan kesembuhan baginya.

Demikian seterusnya dalam setiap kesempatan dan dalam setiap mendapatkan kenikmatan hendaklah engkau selalu mengaitkannya kepada Yang Memberi nikmat, sehingga dalam hati si kecil tertanam rasa cinta kepada Allah.

Kedua, Hubburrasul (cinta kepada Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- ). Yaitu dengan mengajarkan kepada si kecil sikap-sikap Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- , keberanian, konsisten, kelemah lembutan, kemurahan, kesabaran dan keihklasan beliau. Dengan hal ini, seorang anak akan mencintai Nabinya -sholallahu 'alaihi wasallam- .

Ketiga, Muraqabatullah (menumbuhkan sifat merasa terus diawasi oleh Allah Tabaaraka wa ta’ala). Yaitu dengan mengajarkan kepada si kecil bahwa Allah selalu mengetahui dirinya dalam setiap gerakan dan diamnya, sehingga si kecil akan merasa terus diawasi oleh Allah, takut kepada Allah dan ikhlas dalam setiap amalannya hanya mencari keridhaan Allah.

Keempat, Mengajarkan kepada si kecil hukum-hukum halal dan haram. Hendaklah orangtua menjelaskan kepada si kecil tentang hal-hal yang haram sehingga ia bisa menjauhinya, hal-hal yang halal dan mubah agar ia bisa melakukannya serta menjelaskan adab-adan islami supaya ia bisa melaksanakannya.

Semoga kita senantiasa dibimbing oleh Allah agar mampu memenuhi hakhak anak, sehingga kita tidak sampai menzhaliminya, apalagi menyandang gelar orangtua yang durhaka kepada anaknya. *

Abu Hudzaifah, Lc. Penulis seorang penerjemah dan penulis buku-buku islami.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 03 Juli 2012

Belajar dari Jepang: Menanamkan Harga Diri Saat Makan


"Del, Mama bekali roti isi cokelat, yah?" tanya saya sembari menyusun isi kotak makan siang anak-anak dan suami.

"Iyah. Tapi... huh... pasti pada minta-minta," keluhnya.

"Minta-minta?"

"Iyah, Ma!" si Sulung ikut menimpali, "...di sekolah tuh, anak-anaknya pada minta-minta. Terus kalo gak dikasih, bilangnya gini, '...kalo gak ngasih, gak jadi temen!' ..."

"...atau dibilangi, 'dasaaar, pelit luh!' " imbuh Si Tengah lagi.

"Aduh, kenapa begitu, ya? Apa gak punya harga diri? Dari kecil sudah gampang minta-minta, dan jadi marah kalo gak dikasih," keluh saya sambil menutup tempat bekal.

***

Ada sebuah hadits yang sangat popular tentang kebaikan “tangan di atas daripada tangan di bawah”. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَا حَكِيْمُ، إِنَّ هَذَا الْـمَـالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُوْرِكَ لَهُ فِيْه ِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيْهِ ، وَكَانَ كَالَّذِيْ يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ. الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى.

"Wahai Hakiim! Sesungguhnya harta itu indah dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan berlapang hati, maka akan diberikan berkah padanya. Barang siapa mengambilnya dengan kerakusan (mengharap-harap harta), maka Allah tidak memberikan berkah kepadanya, dan perumpamaannya (orang yang meminta dengan mengharap-harap) bagaikan orang yang makan, tetapi ia tidak kenyang (karena tidak ada berkah padanya). Tangan yang di atas (yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang meminta)." [alhadits]

Yang namanya anak-anak, wajar saja kalau marah jika tidak diberi. Namun, tradisi seperti ini nampaknya tidak begitu membudaya di masyarakat Jepang, pun kanak-kanak. Suatu ketika anak saya pernah mengomentari masalah ini.

"Iyah, Ma! Beda banget dengan teman di Jepang. Jarang ada yang mau minta-minta, puraido ga takai [pride-nya tinggi]," kata Si Sulung lagi.

Saya ingat dulu, Si Sulung selalu membawa bekal ke sekolah, sementara teman-temannya makan masakan di sekolah. Sesekali saya berniat melebihkan isi bekalnya karena seorang anak yang sering main di rumah, sangat menggemari jenis makanan yang baru saya buat tersebut.

"Nggak boleh, Ma. Nggak boleh bagi-bagi makanan dari rumah di sekolah," tolak Si Sulung saat itu.

Meski terdengar aneh dan asing di 'telinga Indonesia' saya --sedikit banyak-- mengerti tujuan larangan tersebut. Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Kerap ada kasus kejahatan meracuni orang di Jepang. Wajar bila pihak sekolah berhati-hati untuk melindungi anak didiknya. Tidak tanggung-tanggung. Masakan di sekolah pun, harus dicek dulu aman tidaknya oleh kepala sekolah.

Beliau diwajibkan makan sejam sebelum tibanya waktu makan siang anak-anak. Agar bila masakan di sekolah itu berbahaya, selaku pimpinan, beliau yang lebih dulu ambil resiko terkena dampaknya. Padahal, yang masak adalah koki 'kiriman' pemerintah yang bersertifikat. Tapi yah, karena taruhannya adalah jiwa sekian ratus anak-anak generasi bangsa, mereka sepertinya tak mau kecolongan.

Di Jepang pun ada adab khusus saat menjamu tamu. Sebelum tamunya makan, adalah lebih baik bila tuan rumah lebih dulu melakukan aksi 'cicip-cicip', sambil mengatakan kalimat yang kurang lebih berarti, "...saya membuktikan makanan ini aman..."

Sekarang saya mengerti, dengan mengjarkan adab makan yang seperti itu, bisa juga jadi sarana membangun harga diri pada anak-anak. Selanjutnya akan turut membangun karakteristik mereka, agar lebih punya sikap mulia tidak hanya dalam hal makan.

Para pendidik semestinya memberi porsi perhatian yang lebih besar saat makan ini. Urusan makan adalah hal yang sangat vital bagi setiap manusia. Karenanya, menjadi waktu yang sangat strategis untuk menanamkan nilai-nilai moral terhadap anak-anak khususnya. Sayang sekali, kebanyakan lembaga formal seperti sekolah di Indonesia, menganggap saat makan hanyalah sekedar aktifitas isi lambung penghalau rasa lapar. Para pendidik sering lalai memperhatikan sikap-sikap anak-anak yang perlu dibenahi, bahkan mungkin tidak sedikit dari mereka yang belum punya ide tentang apa saja sikap yang tidak patut saat makan.

Selain membangun harga diri, melatih anak makan dengan adab makan yang semestinya, ternyata juga bisa berefek positif dalam membangun keteraturan atau kedisiplinan.

Suatu saat, ketika baru mulai menetap di tanah air, saya hendak memasukkan napkin (serbet alas makan) di tas bekal anak-anak. Hari berikutnya, Si Tengah menolak napkin itu.

"...malu, Ma. Nggak ada teman yang pake napkin."

"Kenapa malu? Ini supaya nggak kotor. Kalau ada yang tumpah, bisa dibersihkan. Toh, di Jepang juga kan udah terbiasa begini."

"Hahaha... Mama... Mama..., beda, Ma! Di sekolah kalau makan sama sekali gak teratur. Ada yang makan di koridor, duduk di lantai. Ada juga yang makan di tangga. Banyak yang cuekin makanannya jatuh di lantai."

"Gurunya nggak negur?" tanya saya sambil ingatan melayang ke saat saya menjemput si Tengah lantaran sedang sakit. Saat itu, bertepatan dengan jam makan siang. Saya agak susah sampai di pintu kelas karena di sepanjang koridor, di sana-sini anak-anak duduk melantai sambil memangku bekal makan siang mereka.

"Nggak, Ma... Guru nggak negur lah kalau soal begituan."

"Iyah..., Ma...," Si Sulung ikut menimpali, "...padahal dulu di Jepang, kalo nggak bawa napkin, diingatkan guru, dan nggak boleh tambah. Kalau ada nasi yang jatuh, semuanya pada kayak gimanaaa gitu, jijik, takut kalo sampe injek nasi. Jadinya malu banget kalau makan berserakan."

Ya, saya masih ingat pemandangan itu. Di setiap rando se-ru atau tas khusus anak SD Jepang, selalu saja ada kantong kain kecil yang digantungkan di sisinya. Sebelum anak-anak sekolah, saya selalu penasaran, kantong apakah itu. Ternyata, itu adalah kantong tempat menyimpan napkin/serbet alas makan.

Jika kemudian masyarakat Jepang mudah diatur, memang wajar. Pendidikannya sudah diterapkan betul sejak kecil, bukan sebatas teori yang diulangankan, tapi dipraktekkan langsung dalam urusan yang sangat vital : makan. Tanpa nilai dari guru, tapi didikan langsung dalam kehidupan sehari-hari yang alami.

Boleh jadi, 'ketabahan' para orangtua/pendidik menerapkan adab makan itu yang juga yang mendidik orang Jepang tumbuh jadi manusia yang puraido-ga-takai, punya harga diri, tak gampang meminta-minta. Selama di Jepang, saya belum pernah melihat pengemis. Bahkan, yang hidup sebagai gelandangan pun, tak terlihat pergi ke sana ke mari menengadahkan tangan mereka.*

Nesia Andriana Arif, Penulis "Dengan Pujian, Bukan Kemarahan".

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 02 Juli 2012

Haruskah Menolak Khitbah (Pinangan)?


Sahabat Bilal melamar seorang wanita Quraisy (suku terhormat) untuk dinikahkan dengan saudaranya. Ia berkata kepada keluarga wanita Quraisy, “Kalian telah mengetahui keberadaan kami. Dahulu kami adalah para hamba sahaya, lalu kami dimerdekakan Allah l. Kami dahulu adalah orang-orang tersesat, lalu kami diberikan hidayah oleh Allah l. Kami dulunya fakir, lalu kami dijadikan kaya oleh-Nya. Kini, kami akan melamar wanita Fulanah ini untuk dijodohkan dengan saudaraku. Jika kalian menerimanya, maka alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Dan, bila kalian menolak, maka Allahu akbar (Allah Maha Besar).”

Anggota keluarga wanita itu tampak saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka lalu berkata, “Bilal termasuk orang yang kita kenal kepeloporan, kepahlawanan, dan kedudukannya di sisi Rasulullah n. Maka, nikahkanlah saudaranya dengan putri kita.” Mereka lalu menikahkan saudara Bilal dengan wanita Quraisy tersebut. Usai itu, saudara Bilal berkata kepada Bilal, “Mudah-mudahan Allah l mengampuni. Apa engkau menuturkan kepeloporan dan kepahlawanan kami bersama dengan Rasulullah, sedang engkau tidak menuturkan hal-hal selain itu?”

Bilal menjawab, “Diamlah saudaraku, kamu jujur, dan kejujuran itulah yang menjadikan kamu menikah dengannnya.” (Al Mustathraf, I : 356).

Tidak mudah memang mengambil langkah besar melamar seorang wanita. Di manapun lelaki biasanya merasa deg-degan untuk memulainya. Ada perasaan takut ditolak serta harapan untuk diterima membuat langkah jadi maju-mundur. Tapi, memang harus ada keberanian untuk mencoba agar jelas dan tak mati penasaran dibuatnya. Mungkin, perasaan ini mewakili mayoritas perasaan kaum laki-laki.

Maklum, dalam proses mewujudkan harapan berumah tangga banyak rintangan dan tantangan yang menghadang seseorang. Salah satunya adalah masalah khitbah (melamar calon istri). Banyak pernik-pernik yang menghiasi perjalanan seseorang dalam proses lamarannya.

Namun, tidak selamanya pinangan berujung pada pernikahan. Kadang kala, pinangan harus berhenti sebelum dilangsungkannya ijab qabul, dalam arti tidak selamanya pinangan harus diterima oleh yang pihak yang meminang, atau orang yang meminang mengurunkan niatannya untuk melangkah lebih jauh, yakni pernikahan. Berikut ini akan dibahas seputar perjalanan sebuah pinangan yang kandas di tengah jalan. Bagaimana kita menyikapinya dan apa yang musti kita lakukan ketika kita membatalkan pinangan?

Hukum meminang

Khitbah atau meminang bukanlah syarat sahnya sebuah pernikahan. Seandainya sebuah pernikahan dilaksanakan tanpa khitbah sekalipun, pernikahan tersebut tetap sah. Pada umumnya, khitbah merupakan jalan menuju pernikahan. Menurut jumhur ulama, khitbah itu diperbolehkan, sesuai dengan firman Allah swt, “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu…” (Al-Baqarah [2] : 235)

Pendapat yang dipercaya oleh para pengikut mazhab Syafi‘i adalah khitbah hukumnya sunnah, sesuai dengan perbuatan Rasulullah n, di mana beliau meminang Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar c. Hal ini boleh dilakukan jika pada diri wanita tersebut tidak ada penghalang yang membuatnya tidak boleh dinikahi. Jika ada penghalang, maka khitbah tidak boleh dilakukan.

Dalam kitab Hasyiyah ‘alal Muhalla, Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi berkata, “Sesungguhnya khitbah itu memiliki hukum yang sama dengan hukum pernikahan, yaitu; wajib, sunnah, makruh, haram, ataupun mubah. Sunnah jika pria yang akan meminang termasuk orang yang disunnahkan untuk menikah. Contohnya, orang yang telah memiliki kemampuan untuk menikah, dan ia tidak merasa khawatir dirinya akan terjerumus dalam perzinaan. Makruh, jika pria yang akan meminang termasuk orang yang dimakruhkan baginya untuk menikah. Sebab, hukum sarana itu mengikuti hukum tujuan.

Khitbah yang hukumnya diharamkan menurut ijma‘ adalah mengkhitbah wanita yang sudah menikah, mengkhitbah wanita yang ditalak dengan talak raj‘i sebelum selesai masa iddahnya, sebab statusnya masih sebagai wanita yang telah menikah.

Sedangkan, khitbah juga diharamkan bagi orang yang memiliki empat istri, termasuk khitbah terhadap wanita yang antara dirinya dan istri si peminang diharamkan untuk disatukan sebagai istri, mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah oleh orang lain dan lain-lain yang akan dijelaskan nanti.

Khitbah hukumnya wajib bagi orang yang merasa khawatir akan terjerumus dalam perzinaan jika tidak segera meminang dan menikah. Sedangkan, khitbah hukumnya mubah dan halal jika wanita tersebut dalam kondisi kosong dari pernikahan, serta tidak ada suatu halangan hukum yang menghalangi untuk dilamar.

Membatalkan Pinangan

Perlu dipahami sebelumnya bahwa pinangan itu bukanlah ikatan. Ia hanyalah janji untuk mengikat suatu. Sedangkan janji untuk mengikat suatu itu tidak selalu harus terlaksana, menurut jumhur ulama. Sehingga, sang wali tidak salah bila menarik kembali jawabannya bila ia melihat adanya suatu maslahat bagi wanita yang dipinang.

Wanita yang dipinang itu sendiri tidak ada salahnya bila ia menarik kembali janjinya bila tidak menyukai si peminang. Sebab, nikah merupakan ikatan seumur hidup, di mana kekhawatiran akan terus-menerus ada di dalamnya. Karena itu, wanita yang hendak menikah harus berhati-hati dengan dirinya sendiri dan memperhatikan keberuntungannya.

Akan tetapi, apabila wali atau tunangan menarik kembali janji tersebut tanpa tujuan apa pun, hal itu tidak dibenarkan. Karena itu termasuk pengingkaran janji dan menjilat ludah sendiri. Namun, hukumnya tidak sampai haram, karena sebenarnya itu belum wajib baginya. Ini seperti seseorang yang menawar suatu barang kemudian muncul niat pada dirinya untuk tidak jadi membelinya.

Seorang peminang juga makruh meninggalkan wanita yang telah dilamarnya, bila sang wanita telah cenderung kepadanya, sementara para peminang yang lain telah tertutup jalannya untuk meminangnya, karena ia hanya tertarik kepada si peminang itu.

Atas dasar inilah, hukum membatalkan lamaran sesudah adanya kecenderungan masing-masing pihak itu berbeda-beda, menurut perbedaan penyebabnya :
  1. Bila pembatalan tersebut karena tujuan yang benar, maka hal itu tidak makruh.
  2. Bila pembatalan tersebut tidak ada sebabnya, maka hal itu makruh, karena itu dapat membuat hati orang lain hancur. Bahkan, pembatalan tersebut bisa sampai ke tingkatan haram, yaitu apabila si wanita telah menaruh kecenderungan kepada si peminang, sementara para peminang yang lain telah tertutup jalannya untuk meminang dirinya, kemudian si peminang itu membatalkan pinangannya. Allah l berfirman, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash-Shaff [61] : 3).
  3. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi n bersabda: آيَةُ اْلمُنَافِقِ ثَلاَثٌ، إِذَا حَدَثَ كَذَبَ، وَإِذَا أؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ”Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; bila berbicara ia berdusta, bila dipercaya ia khianat, dan bila berjanji ia menyelisihi.”
  4. Bila pembatalan tersebut disebabkan adanya peminang lain yang datang kepadanya, maka hal ini adalah haram, berdasarkan apa yang telah kita bahas sebelumnya.

Etika Menolak Pinangan

Sebagai agama yang menekankan kasih sayang di tengah-tengah umatnya, Islam memerintahkan agar kita menghargai perasaan orang lain. Tak ketinggalan, dalam masalah pinangan, Islam memberikan suri tauladan yang baik bagaimana kode etik dalam menolak sebuah pinangan, bilamana jalan tersebut adalah pilihan terbaik bagi seseorang.

Dalam Islam, seorang wanita juga boleh menawarkan dirinya sendiri kepada seorang laki-laki shalih agar menikahinya, jika aman dari fitnah. Hal ini pernah terjadi dalam kisah seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi n. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bab ‘Ardhil Mar‘ati Nafsaha ‘alar Rajulish Shalih, dari hadits Sahl bin Sa‘ad, bahwa ada seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi n. Kemudian ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya.” “Apa yang kamu miliki (sebagai maharnya)?” tanya beliau. “Saya tidak memiliki apa-apa.” “Pergi dan carilah walaupun hanya cincin yang terbuat dari besi.”

Orang itu pun pergi lalu kembali lagi seraya berkata, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu walaupun hanya sebuah cincin yang terbuat dari besi. Namun, saya memiliki sarung ini, dan wanita tersebut berhak atas setengah sarung ini.” Sahl menambahkan, “Orang tersebut tidak memiliki pakaian sama sekali (kecuali sarungnya).” Maka Rasulullah bersabda, ‘Apa yang dapat engkau perbuat dengan setengah sarungmu itu, saat engkau memakainya?” Setelah duduk lama, orang itu pun beranjak pergi.

Saat beliau melihatnya, beliau pun memanggilnya—atau dipanggil untuk menghadap beliau--. Beliau bertanya kepadanya, “Apakah engkau memiliki hafalan Al-Quran?” “Saya hafal surat ini dan itu—yaitu beberapa surat--.” Nabi n lalu bersabda, “Aku menjadikan wanita itu sebagai milik (istri) mu dengan mahar hafalan Al-Quran yang ada padamu.”

Demikian pula, seorang wali boleh menawarkan wanita yang perwaliannya ada di tangannya kepada orang-orang yang memiliki kebaikan. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Umar bin Khaththab ketika menawarkan putrinya, Hafshah x, kepada Utsman bin Affan, lalu kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq c.

Bukhari telah meriwayatkan dalam hadits no. 5122, kitab An-Nikah, dari Abdullah bin Umar c bahwa ia berkata, “Tatkala Hafshah binti Umar menjadi janda setelah bercerai dengan Khunais bin Hudzafah As-Sahmi—salah seorang sahabat Rasulullah n yang wafat di Madinah--, maka Umar bin Khaththab berkata, ‘Aku mendatangi Utsman bin Affan dan aku tawarkan Hafshah kepadanya. Utsman menjawab, ‘Saya akan mempertimbangkannya.’ Aku menunggu selama beberapa malam. Kemudian ia menemuiku seraya berkata, ‘Saya pikir, pada waktu ini aku belum berminat untuk menikah.’”

Umar melanjutkan, “Aku lalu menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, ‘Jika engkau mau, aku akan menikahkanmu dengan Hafshah binti Umar.’ Abu Bakar hanya diam dan tidak memberi jawaban kepadaku. Maka, aku pun tahu bahwa ia akan menjawab sebagaimana jawaban Utsman. Lantas, aku pun berdiam diri selama beberapa malam. Beberapa malam kemudian, Rasulullah n meminang Hafshah, maka aku pun menikahkannya untuk beliau. Setelah itu, Abu Bakar menemuiku seraya berkata, ‘Barangkali engkau marah kepadaku saat engkau menawarkan Hafshah dan aku tidak memberi jawaban kepadamu?’ Aku pun menjawab, ‘Benar.’

Abu Bakar berkata, ‘Tidak ada yang mencegahku untuk memberikan jawaban kepadamu atas sesuatu yang engkau tawarkan kepadaku, melainkan karena aku telah mendengar bahwa Rasulullah n telah menyebut-nyebut namanya (Hafshah). Dan, aku tidak mau membuka rahasia beliau. Seandainya beliau tidak menikahinya, tentu aku akan menerimanya’.”

Dalam Fathul Bari, IX : 178, Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan ulasan hadits ini dengan pernyataannya, “Dalam hadits tersebut terdapat dalil mengenai bolehnya seseorang untuk menawarkan anak perempuannya atau wanita-wanita lain yang menjadi tanggung jawabnya kepada seseorang yang dipercaya kebaikan dan keshalihannya. Sebab, dalam hal ini ada manfaat bagi orang yang ditawarkan dan ia tidak merasa malu dalam hal tersebut.

Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa menawarkan seorang wanita kepada orang yang telah beristri tidak ada salahnya. Sebab, pada saat itu, Abu Bakar pun telah beristri. Bahkan, persoalan semacam ini juga telah berlaku dalam syari‘at umat sebelum kita. Yaitu, Nabi Syu‘aib, orang shalih, yang telah berkata kepada Musa q seperti yang disebutkan dalam al-Quran, “Dia (Syu’aib) berkata, ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun.” (Al-Qashash [28] : 178). Riwayat-riwayat di atas juga menunjukkan dibolehkannya menolak tawaran. Tapi, tentunya harus dengan cara yang baik.

Secara khusus, seorang wanita dibolehkan menolak sebuah pinangan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, “Seorang janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izin. Seorang gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai persetujuan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, bagaimana tanda persetujuan seorang gadis?” Beliau menjawab, “Tanda persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Bukhari, Muslim dan selainnya)

Hadits di atas secara jelas menunjukkan bahwa bila seorang laki-laki ingin menikahi seorang wanita, baik janda ataupun gadis, maka harus dengan izin atau persetujuan wanita itu terlebih dahulu. Itu berarti seorang wanita mempunyai hak untuk menerima atau menolak lamaran seseorang. Karena pembatalan juga menunjukkan ketidaksetujuan untuk dinikahi, dan cukuplah hadits di atas sebagai dalilnya.

Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ada seorang gadis menemui Rasulullah lalu bercerita tentang ayahnya yang menikahkannya dengan laki-laki yang tidak ia sukai. Maka, Rasulullah memberi hak kepadanya untuk memilih.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). Dalam riwayat Ahmad dan Nasa'i disebutkan bahwa wanita tersebut, lalu ia berkata, “Aku telah mengizinkan apa yg dilakukan bapakku itu. Hanya saja, aku ingin kaum wanita tahu bahwa seorang ayah itu tidak berhak memaksa anaknya kawin dengan seseorang.”

Dengan demikian, maka membatalkan pinangan itu dibolehkan, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, dengan tetap melihat kemashlahatan kedua belah pihak. Sehingga, kalaupun pinangan harus pupus di tengah jalan, namun ukhuwah islamiyah tetap terjalan dan tidak sampai tali silaturrahmi terputus. Hal tersebut dapat terwujud bilamana setiap muslim menyadari bahwa permasalahan jodoh adalah salah satu bagian dari takdir dari Allah Ta'ala.*

Abu Hudzaifah, Lc. Penulis adalah penerjemah dan penulis buku-buku islami.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Minggu, 01 Juli 2012

Mereka, Yang Bisa Mengantarkan Kita ke Syurga


Sebuah berita kecil membuat para orangtua Indonesia kaget bukan kepalang. Seorang siswi kelas 1 SMK di Surabaya, diringkus anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya lantaran diduga telah menjual temannya untuk dijadikan pekerja seks (WTS). Bayangkan, remaja berusia 15 tahun itu telah berani menjadi mucikari dengan memberikan iming-iming bayaran tinggi jika temannya mau menjadi anak buahnya di bisnis prostitusi.

Sebelumnya, berita cukup menyedihkan datang dari Komnas Perlindungan Anak dan BKKBN ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ) yang melakukan penelitian tentang Perilaku Seksual Remaja SMP dan SMU tahun 2009. Hasilnya tak kalah menyedihkan. “Tingkat keperawanan remaja Indonesia masih mengkhawatirkan”.

Survey BKKBN tahun 2010 yang menunjukkan bahwa 51% remaja di Jabodetabek telah melakukan hubungan seks diluar nikah. Kondisi ini tak hanya terjadi di Jabodetabek, tren mengerikan juga terjadi di berbagai kota. Surabaya (54 %), Bandung (47 %), dan Medan (52 %).

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Banyak yang menilai, arus globalisasi yang udah tak terbendung tanpa dibarengi dengan pemahaman agama dan perhatian orangtu lah penyebabnya.

Pendidikan yang utama

Di jaman penuh fitnah ini, sering kita dapati orangtua yang tak bisa membedakan mana pendidikan utama dan mana pendidikan yang sampingan. Umumnya orangtua terkecekoh dengan angka-angka, nilai akademik dan janji-janji artificial. Banyak orangtua mengantarkan anaknya les Inggris, matematika dengan harapan IQ nya cemerlang dan indeks prestasinya terdongkrak. Beberapa orangtua lain; mengikutkan anak-anak mereka ikut les balet, piano, dll sementara di sisi lain mereka lupa pendidikan tauhid. Bagaimana anak-anaknya mengenal sang Pencipta, Allah Azza Wa Jalla. Bagaimana agar anaknya kelak memiliki rasa malu, menjaga aurat, membatasi lawan jenis dll. Yang terjadi justru kebanyakan orantua bangga anak-anak putri mereka dijemput pacarnya. Seolah jika anak mereka tak punya pacar, mereka khawatir anak perempuannya tidak laku.

Apakah semua kursus-kursus itu dilarang? Tentusaja tidak. Harusnya mana yang lebih diutamakan, tauhid mereka atau sekedar keahlian mereka yang bisa diajarkan beberapa minggu saja.

Padahal, jauh-jauh hari, Allah memperingatkan para orangtua agar menjaga anak-anak mereka. Sebab dari merekalah kita bisa akan ikut terseret ke neraka janannam.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS.At-Tahrim:6)

Imam Al Ghazali mengatakan, pendidikan utama bagi anak-anak adalah pendidikan agama. Karena di situlah pondasi utama bagi pendidikan keluarga. Pendidikan agama ini meliputi pendidikan aqidah, mengenalkan hukum halal-haram memerintahkan anak beribadah (shalat) sejak umur tujuh tahun, mendidik anak untuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, orang-orang yang shalih dan mengajar anak membaca al-Qur’an.

“Hendaklah anak kecil diajari al-Qur’an hadits dan sejarah orang-orang shalih kemudian hukum Islam,” ujar Al-Ghazali. Baru setelah itu diajarkan pada mereka pengetahuan umum.

Yang terjadi banyak orantua lebih sedih anaknya tak bisa matematik, Inggris atau IPA namun mereka tenang-tenang saja ketika anaknya tak mengerti adab, hukum Islam. Bahkan banyak orangtua tidak sedih ketika anak-anak perempuan mereka pergi –bahkan sampai pulang malam—dengan teman-teman prianya. Padahal dari situlah kehancuran masa depan anak-anak perempuan mereka bermula.

Rahasia Anak Perempuan

Begitu pentingnya Islam memperhatikan anak-anak perempuan, jauh-jauh hari, Rasulullah dan Al-Quran memperingatkan pada para orangtua.

Padahal, dahulu di zaman jahiliyah, masyarakat lebih mencintai anak laki-laki dan mendahulukannya daripada anak perempuan. Bahkan di antara mereka ada yang membenci dan menjauhi istrinya karena melahirkan anak perempuan, bukan anak laki-laki. Namun ketika datangnya Islam dengan sinarnya yang cemerlang bagai matahari yang menyinari seluruh peloksok negeri dan semua penghuninya. Islam menyeru dengan lantang dengan keutamaan mendidik anak perempuan. Islam menawarkan banyak kebaikan dan pahala yang besar atas mendidik anak perempuan bagi orang tua yang melaksanakan tugas mulia ini.

Sebenarnya, mendidik anak perempuan itu akan menjadi penghalang dari api neraka. Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa ia berkata: "Ada seorang wanita masuk besama dua anak perempuannya seraya meminta diberi sesuatu. Akan tetapi aku tidak mendapatkan sesuatu untuk diberikan kecuali sebutir buah kurma. Aku berikan sebutir buah kurma tersebut kepadanya. Kemudian si ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Sementara ia sendiri tidak makan. Kemudian mereka keluar dan pergi. Ketika Nabi saw. datang dan masuk kepada kami, aku beritahukan kisah ini kepadanya. Kemudian beliau berkata:

"مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَناَتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إلَيْهِن كُنَّ لَهُ سِتْراً مِنَ النّاَرِ"

“Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak peremuaan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendidik anak perempuan juga dapat mengantarkan masuk ke surga. Diriwayatkan oleh Aisyah ra. ia berkata: “Aku kedatangan seorang ibu miskin yang membawa kedua anak perempuannya. Aku berikan kepadanya tiga butir buah kurma.

Kemudian ia memberikan masing-masing dari kedua anaknya satu butir kurma dan yang satu butir lagi ia ambil untuk dimakan sendiri. Akan tetapi, ketika ia akan memakannya, kedua anaknya itu memintanya. Akhirnya satu butir kurma itu dibelah dua dan diberikan kepada mereka berdua. Kejadian itu mengagumkanku. Maka, aku ceritakan hal itu kepada Nabi saw. Dengan demikian beliau bersabda:

"إِنَّ اللهَ قَدْ أوْجَبَ لَهاَ بِهاَ الْجَنَّةِ، أَوْ أَعْتَقَهاَ بِهاَ مِنَ الناَّرِ"

“Allah saw. mengharuskan ibu itu masuk surga atau membebaskannya dari neraka disebabkan kasih sayangnya terhadap anak perempuannya.” (HR. Muslim)

Selain itu, mendidik anak perempuan dapat mengangkat derajat. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda:

"مَنْ عاَلَ جاَرِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغاَ جاَءَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ أناَ وَهَوَ"

“Barangsiapa mengurus dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa maka ia datang di hari kiamat bersamaku.” Beliau merapatkan jari-jemarinya. (HR. Muslim)

Rasulullah saw. menerangkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin masuk surga, yaitu dengan berbuat ihsan terhadap anak perempuan dengan rincian sebagai berikut:
  • Pertama, Merawatnya hidup dan tidak menguburkannya hidup-hidup seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.
  • Kedua, Memuliakan, memelihara dengan baik dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, kebanggaan dan penghormatan tanpa merendahkan ataupun menghinakan
  • Ketiga, Tidak mengutamakan anak laki-laki ketimbang anak perempuan dalam memperlakukan mereka
Barangsiapa yang dapat merealisasikan tiga syarat di atas maka ia sangat patut untuk mendapatkan pahala tersebut di atas yaitu masuk surga.

Mendidik anak perempuan dan mentarbiyahnya akan menjadi tabir dan penghalang dari api neraka. Diriwayatkan dari Uqbah bin Nafie ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,

"مَنْ كاَنَ لَهُ ثَلاَثُ بَناَتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقاَهُنَّ وَكَساَهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجاَباً مِنَ النّاَرِ يَوْمَ الْقِياَمَةِ"

“Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan kemudian ia sabar atas (merawat dan mendidik) mereka serta ia memberi makan dan minum mereka dari apa-apa yang ia dapatkan maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka di hari kiamat.” (HR. Ahmad)

"مَنْ عاَلَ ابْنَتَيْنِ أوْ ثَلاَثَ بَناَتٍ أوْ أُخْتَيَنِ أوْ ثَلاَثَ أخَواَتٍ حَتَّى يَمُتْنَ أوْ يَمُوْتُ عَنْهُنَّ كُنْتُ أناَ وَهُوَ كَهاَتَيْنِ"

“Barangsiapa yang menanggung dua atau tiga anak perempuan; dua atau tiga saudara perempuan hingga mereka meninggal dunia atau ia lebih dahulu meninggal dunia maka aku dan dia seperti dua ini.” (Shahih al Jami')

Semoga kita bisa menjadi orangtua yang bisa menjaga anak-anak perempuan kita menjadi benar. Sebab, sesungguhnya merekalah yang bisa mengantarkan kita ke surga.*

Bunda Mulia. Penulis ibu rumahtangga tinggal di Surabaya.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 30 Juni 2012

Jangan Umbar Urusan Ranjangmu pada Orang Lain


Hari itu, Arif Budiman (bukan nama sebenarnya) telah mulai masuk kantor setelah lebih dari seminggu cuti karena telah mengakhiri masa lajang dan menikah dengan gadis pilihannya.

Baginya, masuk kantor pertama kali setelah pernikahan, ibarat menjadi mahasiswa baru yang mendapat perpeloncoan. Ia mengaku heran, mengapa hari itu semua ingin saja mau tahu urusan ranjangnya.

“Hei, gimana malam pertamanya? Seru gak?,” demikian ujar Agus, salah satu teman bagian pemasaran.

“Bagi-bagi dong, ceritanya, “ tambah teman lainnya.

Di saat istirahat, rupanya mereka semua ngerumpi seolah ingin melanjutkan cerita ranjang itu. Bahkan, tak jarang, sahabat yang telah lama menikah, ikut membagi-bagi cerita yang disebutnya ‘tips memuaskan istri’.

Ini hanya secuil kasus yang terjadi di masyarakat. Selama, tiga kali penulis pindah kantor, hal-hal seperti kerap terjadi, seolah bukan masalah serius.

Tak hanya kalangan pria, kalangan wanita juga tak kalah hebatnya. Jika sudah bertemu dan ngerumpi, mereka juga saling bercerita urusan ranjangnya pada teman-teman yang lain.

Kadangkala, atas nama hubungan pertemanan dan kedekatan, seseorang dengan tenangnya menceritakan kehidupan rumah tangganya pada oranglain, termasuk urusan di atas tempat tidur.

Padahal dalam Islam, Allah mencela perbuatan seperti ini. Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam Kitabnya yang berjudul, "Al-Halal Wal Haram Fil Islam” mengutip bahasan ini.

Dalam Islam, di antara rahasia yang harus dijaga para suami dan istri selain harta adalah menceritakan urusan ranjang suami-istri kepada orang lain. Karena itu, ia tidak boleh menjadi pembicaraan di forum, atau obrolan malam di tempat-tempat berkumpul bersama, baik laki-laki maupun perempuan.

Dalam sebuah hadits dikatakan,

“Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di hari kiamat nanti adalah suami yang memberitahukan kepada istrinya dan istrinya memberitahukan kepada suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya itu.” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى الْمَرْأَةِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا)) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

"Termasuk orang yang paling jelek di sisi Allah kedudukannya pada hari kiamat yaitu lelaki yang menggauli istrinya dan istrinya menggaulinya, kemudian lelaki itu menyebarkan rahasianya." (HR. Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan hadits ini dengan mengatakan, bahwa dalam hadits ini diharamkan seorang suami menyebarkan apa yang terjadi antara dia dan istrinya dari perkara jima’. Juga diharamkan menyebutkan perinciannya , serta apa yang terjadi pada istrinya baik berupa perkataan maupun perbuatan dan yang lain”.

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, “Rasulullah saw. shalat bersama kami. Setelah salam, beliau membalikkan badannya ke arah kami lalu bersabda, “tetaplah berada di tempat duduk kalian masing-masing, adakah di antara kalian orang yang bila mendatangi istrinya menutup pintu dan gorden, kemudian keluar dan menceritakan kepada orang lain dan mengatakan, “Aku telah melakukan begini dan begitu dengan istriku, dan melakukan ini dan itu bersamanya?” ‘mereka semua terdiam. Kemudian beliau menghadap ke arah kaum perempuan dan bersabda, “Adakah di antara kalian yang menceritakannya?” Maka berdirilah seorang gadis berdada montok dengan salah satu lututnya dan mendongak supaya dapat dilihat Rasulullah saw. dan didengar perkataannya. Ia berkata, “Benar, demi Allah, mereka membicarakannya.” Maka beliau saw. bersabda, “Tahukah kalian apa perumpamaan orang yang melakukan itu adalah seperti halnya setan laki-laki dan setan perempuan. Salah seorang di antaranya bertemu pasangannya itu di sebuah lorong, kemudian ia melampiaskan hajadnya kepadanya dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Ahmad, abu Daud, dan Bazzar).

Perumpamaan Nabi yang keras ini seharusnya menjadi peringatan pada kita semua dalam urusan rahasia ranjang kita.

Berbeda dengan agama lain, Islam sangat menjaga pernikahan kaum Muslim. Ikatan pernikahan kaum Muslim diibaratkan sebuah perjanjian yang kuat. Sehingga antara keduanya memiliki perjanjian kuat (al–mlitsaq al-ghalizha) yang tak boleh dikhianati secara seenaknya.

Karenanya, Allah berfirman;

“Dan mereka ( istri istrimu ) telah mengambil darimu perjanjian yang kuat.“ [an Nisa:21]

Wahai para suami dan para istri, sesungguhnya hubungan antara engkau dan istrimu adalah hubungan yang kuat dan suci. Hargailah kesucian itu dengan cara menjaga rahasianya!*

AF.I. Maulana & Binti Djazuli. Penulis Suami-istri, dengan empat orang anak.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 29 Juni 2012

Anak-anakmu adalah Pemenang Itu


Ada pemandangan yang sulit saya lupakan ketika masih kecil. Pagi itu, para siswa pergi ke sekolah. Semua anak-anak dengan seragam baju putih dan celana merah, dengan dasi merah dan topi merah menuju ke sekolah masing-masing untuk mengikuti upacara bendera hari Senin.

Ada seorang bapak berjalan sambil menyeret anaknya yang memakai seragam merah dan putih di depan rumah. Ia tarik keras-keras kedua tangan anak yang menangis meronta-ronta. Anak itu seperti tidak ingin memenuhi tarikan kuat tangan ayahnya. Sementara sang ayah masih tetap ingin agar anaknya mau pergi ke sekolah. Belum jelas, apa yang sesungguhnya membuat si anak kecil itu enggan ke sekolah.

Aku tahu, anak itu menahan perasaan malu. Ia menangis di depan umum dengan perlakuan ayahnya yang tidak ramah. Siapa pun yang pernah jadi anak kecil, juga pernmah merasakan malu yang luar biasa seperti itu. Apalagi di depan teman-teman sebaya mereka.

Buah Kemenangan

Kasus-kasus seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Terkadang seorang ayah tidak menyadari bahwa anaknya hadir di dunia karena sebuah kemenangan. Mereka adalah pemenang sebelum mengawali kehidupan di dunia ini. Mereka hadir karena kemenangan yang ia perolehnya. Dan mereka hadir bukan karena kegagalan, tapi kesuksesan. Mereka tidak senang direndahkan dan dipermalukan, karena itu adalah sifat yang menempel kuat dalam diri para pemenang. Ada sebuah kalimat yang sangat indah untuk menjelaskan bahwa setiap anak adalah buah dari kemenangan.

"You were born as a winner, cos as a sperm, you had won your race over the other millions to get to the ovum." (Kamu dilahirkan sebagai seorang pemenang, karena kamu adalah sebuah sperma yang telah memenangkan berjuta-juta sperma sainganmu untuk menuju sel telur).

Secara umum, ketika orang berhadapan dengan pemenang ia akan sangat senang sekali. Apalagi ketika yang menjadi pemenang itu adalah anak-anak kita. Hati bergetar, bulu kuduk pun ikut berdiri, dan getaran adrenalin pun semakin kencang, ketika nama anak kita dipanggil dengan suara keras di depan para orangtua murid sebagai pemenang, juara satu di sekolahnya. Perasaan syukur dan bangga bercampur aduk menjadi satu. Kita peluk erat-erat anak kita yang telah mengharumkan namanya. Pada saat itu terlihat keikhlasan orang tua. Ia tidak meminta balasan apapun, kecuali hanya perasaan bersyukur. Anak hasil didikannya menjadi seorang pemenang.

Ketika anak berhasil lahir ke dunia, dan seorang lelaki kemudian akan menjadi seorang ayah. Keberhasilan anaknya lahir ke dunia adalah buah dari kemenangannya ketika harus melawan berjuta-juta sperma saingannya.

Di dalam rahim ibunya mereka berlomba berenang dengan segenap tenaga yang dimilikinya agar cepat-cepat dapat sampai ke sel telur yang dikeluarkan oleh ibunya. Untuk menjadi seorang yang benar-benar mempunyai predikat pemenang, itu saja ternyata tidak cukup. Sel sperma yang sehat ini harus mampu menembus dinding sel telur yang kuat. Tidak sembarang sel sperma mampu menembus dinding sel telur, walaupun ia telah menyentuh dindingnya sekalipun.

Dan kemenangan ini bukan hanya selesai sampai ketika sebuah sperma berhasil menembus dinding sel terlur milik ibunya. Akan tetapi berlanjut terus sampai akhirnya ia melewati ujian selama hampir 9 bulan di rahim ibunya. Tidak sedikit dari mereka yang gagal di tengah jalan. Tidak bisa melengkapi kemenangan-kemenangan yang berikutnya. Bisa jadi karena itulah takdir yang telah Allah SWT tetapkan bagi hidupnya.

Anak-anak adalah buah dari banyaknya kemenangan. Karena itu proses ini harus diingat terus oleh sang ayah. Janganlah selalu melihat apa yang terjadi sesaat akan tetapi selalu lihatlah bagaimana proses yang sulit dan kritis itu ikut mengikutinya.

Ada sebuah pepatah yang menarik untuk kita renungi bersama, “You know my name, not my story. You’ve heard what I’ve done, not what I’ve been through. So stop judging me.” (Kamu tahu namaku tapi tidak mengetahui sejarahku. Kamu mendengar apa yang aku hasilkan, akan tetapi kamu tidak mendengar apa yang aku laluinya).

Seorang pemenang yang bernama anak terkadang bisa salah. Akan tetapi sebenarnya mereka sedang melalui proses keberhasilan sebagaimana ketika mereka berjuang keras untuk menuju ke dinding sel telur tadi. Karenanya, seorang ayah yang baik, dia haruslah selalu mengiringi usaha keberhasilan anak-anaknya, agar ia tidak hanya menyaksikan buah dari perjuangannya saja. Agar ia tahu makna dari sebuah perjuangan yang dahsyat dalam rangka mencapai keberhasilannya.

Ketika seorang ayah tahu bahwa anaknya adalah pemenang sejati, dan pejuang yang gigih, ia akan selalu menjadi pengayom dengan hasil akhir perjuangan yang diraihnya. Ia tidak akan merendahkan anak-anaknya. Ia akan tetapi menjadi pendamping setia anak-anaknya. Ia tidak akan mempermalukan anak-anaknya, karena mereka masih dalam perjuangan meraih dirinya sebagai pemenang.

Di hadapan anak-anaknya, seorang ayah adalah penanam saham penentu keshalehan anak-anaknya.

Rasulullah SAW bersabda: “Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat?“ kemudian beliau membaca firman Allah yang berbunyi: “…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.” (QS. Ar Ruum [30]: 30).(HR. Bukhari)

Seorang pemenang harus dihargai dan dimuliakan, karena ia mempunyai sifat gagah. Sebagaimana ketika Luqman berbicara dengan anak-anaknya. Seorang ayah yang memanggil anaknya dengan panggilan mesra, pasti akan berdampak luar biasa pada anak-anaknya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴿١٣﴾

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman[31]:13)

Karena itu, wahai para ayah, engkau telah bersama-sama dengan pemenang, maka raihlah kemenangan selanjutnya bersama-sama dengan anak-anakmu!.

Yusuf Muhammad Efendy, tinggal di San Francisco, Amerika.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamis, 28 Juni 2012

Berikan Kepercayaan Pada Anak Kita!


Ada sebuah perusahaan yang berhasil dibangun dengan kekuatan kepercayaan. Yaitu perusahaan sepeda dengan nama Zane's Cycles. Sebuah perusahaan penjual berbagai jenis sepeda ontel di Amerika. Perusahaan yang didirikan oleh Christopher J. Zane tahun 1980 ini dimulai dari toko sederhana. Toko sepeda pertama kali didirikannya di kota Branford, negara bagian Connecticut. Toko ini cepat berkembang dan mempunyai cabang yang cepat menyebar.

Berkembang menjadi sebuah perusahaan besar yang sekarang bergerak tidak hanya masalah sepeda ontel saja. Zane mempu mengembangkan bisnisnya dalam berbagai sektor. Dan perusahaan ini akhirnya sukses dengan memperoleh keuntungan sekitar 13 juta dollar US setahun hanya untuk satu lokasi cabangnya saja.

Apa kunci kesuksesannya?

Salah satu keberhasilan perusahaan ini adalah mampu membangun kepercayaan dengan konsumennya. Zane tahu persis bahwa kepercayaan adalah kunci utama bagi toko sepeda kecil seperti miliknya. Tanpa kepercayaan sulit baginya untuk menyaingi ritailer besar sekelas Walmart dan sejenisnya.

Akan tetapi dengan membangun kepercayaan, sudah pasti ada sisi yang harus ia korbankan. Zane tahu betul, bahwa dalam diri konsumen ada prinsip "No Body Perfect".

Bagaimana Chris Zane yang berusia 33 tahun mempertahankan penjualan terus tumbuh 25 persen per tahun dalam bisnis yang sangat kompetitif? Sangat sederhana sekali. Yaitu dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi konsumen yang ingin mencoba sepedanya dan garansi seumur hidup.

“Strategi yang membuat saya sangat dikenal adalah garansi servis seumur hidup. Setelah seorang konsumen membeli dari saya, jika sepeda tidak bisa berjalan atau memerlukan perawatan, kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk membuat konsumen kembali bisa menggunakan sepeda. Gratis,” ujar Zhris Zane.

Hebatnya lagi, tanpa harus ditanya macam-macam, alias "no question asked", silakan mencoba berbagai jenis sepeda yang disukainya. Para pembelinya boleh memilih sepeda yang diinginkannya, dan mencoba semaunya tanpa perlu syarat tertentu.

Dan luar biasanya lagi, tidak hanya sepeda-sepeda yang berharga murah yang bisa dicoba, bahkan sepeda dengan harga 6000 US dollar (atau sekitar 50 juta) pun boleh dicobanya sebelum dibelinya. Dicoba berarti harus dinaiki, dan dibawa ke suatu tempat yang mungkin akan menjauh dari tokonya.

Apakah tidak takut sepedanya dicuri konsumennya? sudah pasti khawatir dan takut. Akan tetapi ternyata sikap kepercayaan kepada konsumen yang lebih besar inilah yang membuahkan keberanian melakukan “garansi seumur hidup” pada pelanggannya.

Hasil yang luar biasa. Faktanya menunjukkan, dari 4000 sepeda yang ia jual setiap tahun, hanya 5 sepeda dicuri oleh konsumennya.

Hilangnya 5 sepeda adalah tidak ada artinya bagi sebuah keuntungan yang luar biasa yang telah ia dapatkan. Dan 5 sepeda tidak ada pengaruhnya dengan kepercayaan kepada konsumen yang telah ia bangunnya. 5 sepeda tidak menjadikan usahanya bangkrut, justru dari hilangnya 5 sepeda ini ia mampu menorehkan tinta sejarah sebagai salah satu perusahaan yang berhasil membangun kepercayaan dengan konsumennya.

Inilah buah dari berpositif thinking. Kalau seandainya kekhawatiran hilangnya sepeda dirasakan Zane lebih besar daripada kesempatan yang ada di depan matanya, maka kesempatan kesuksesan itu tidak akan pernah ia dapatkan selamanya. Boleh jadi Zane masih sebuah toko sepeda kecil di kota Branford.

Al Amin

Suatu ketika seorang gadis kecil bersama dengan ayahnya melintasi jembatan tua yang tidak terawat baik. Jembatan itu penuh dengan lubang menganga, dan talinya pun terlihat ada yang putus. Pertanda kalau kurang diperhatikan oleh yang empunya. Tampak suasana takut dan cemas di raut muka sang ayah dan gadis kecil ketika hendak menyeberanginya. Sambil berbicara pelan kepada putri yang ia cintainya. "Sayang, tolong pegang tangan ayah kuat-kuat agar kamu tidak jatuh ke dalam sungai."

Mendengar permintaan ayahnya si gadis kecil berkata sedikit keras, "Tidak ayah! Ayah yang harus pegang tanganku."

"Apa bedanya?" tanya laki-laki itu sedikit bingung.

"Ada perbedaan besar, yah," balas si gadis kecil.

"Jika aku memegang tangan ayah dan sesuatu terjadi padaku, kemungkinan aku biarkan tangan ayah lepas dariku. Tetapi jika ayah memegang tanganku, aku yakin apapun yang terjadi, ayah tidak akan pernah membiarkan tanganku terlepas," jelasnya.

Gadis kecil ini menyandarkan keselamatan jiwanya kepada ayahnya. Ia yakin dan percaya betul bahwa ayahnya akan menyelamatkannya walau rintangan berat menghadangnya.

Pembaca, pernahkan anda membayangkan begitu besar kepercayaan anak-anak kita kepada kehadiran sang ayah?

Pada awalnya mereka mengharapkan untuk tidak pernah lepas dari genggaman sang ayah dalam segala hal. Termasuk dalam pendidikan moral dan agamanya. Mereka begitu menyenangi kehadiran sang ayah. Kehadirannya memunculkan harapan, dan kepergiannya memunculkan kekhawatiran. Mereka dulu terlihat begitu senang dengan sapa dan teguran yang ayah berikan. Bahkan mereka mencarinya ketika sang ayah tidak berada di sampingnya.

Hanya karena kesalahan yang diciptakan sang ayah-lah yang menjadikan mereka terkadang lepas dari genggamannya. Mereka lupa dengan prinsip yang ayah miliki, karena sang ayah tidak pernah mengajarkannya kembali. Mereka lupa dengan amal-amal sholeh yang harus dilakukannya, karena ayahnya tidak memegang kuat-kuat jalan yang harus ditempuhnya. Mereka tidak percaya kepada ayahnya lagi karena ia tidak memupuk dan menjaga kepercayaan yang diberikannya oleh anak-anaknya.

Dan akhirnya kepercayaan sang anak kepada ayahnya pun sirna. Apa yang keluar dari ucapannya tidak digubris oleh anak-anaknya kembali. Bahkan ketika ajal menjemputnya, jasad sang ayah yang sudah terbujur kaku pun menjadi sesuatu yang mengerikan bagi anak-anaknya.

Sebuah pepatah mengatakan, “Trust is like a mirror, once its BROKEN you can never look at it the same again.” (Kepercayaan seperti sehelai cermin, satu kalinya RUSAK anda tidak pernah dapat memandangnya yang sama lagi).

Pernah suatu ketika terjadi hal yang memprihatinkan di keluarga Muslim di Amerika. Mereka datang ke Amerika dengan harapan besar. Suami dan istri ini menjadi Muslim sejak lahir. Kehidupan dan pendidikan bagi anak-anaknya yang lebih baik. Kehidupan yang lebih manusiawi. Mereka mempunyai dua orang anak. Beberapa tahun kemudian, ketika anak-anaknya beranjak dewasa, ayahnya meninggal dunia karena sakit keras yang sudah lama dideritanya.

Ketika giliran memandikan jenazahnya, tidak ada satu pun anak-anaknya yang berani melakukannya. Dan ketika giliran menshalatkannya pun, mereka tidak paham bagaimana harus memulainya. Parahnya lagi, mereka pun sudah lupa bagaimana cara mengambil air wudhu.

“How should I do it?”, ujarnya dengan wajah bingung. Urutan dan aturan wudhunya tidak dapat ia lakukan dengan baik.

Peristiwa ini adalah salah satu bukti apa yang disebutkan di dalam hadist Rasulullah SAW, "Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (Muslim muwahhid), namun kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu dapati cacat padanya."(Muttafaq 'alaih)

Kembali ke tema kata “kepercayaan”, tidak ada keberhasilan tanpa kepercayaan. Itulah prinsip hidup dari sebuah kesuksesan. Banyak sekali cerita kesuksesan orang-orang besar karena adanya kepercayaan. Bahkan salah satu kunci kesuksesan dakwah Rasulullah SAW adalah karena sebutan Al-Amin (orang yang dapat dipercaya) sejak sebelum kenabian dari semua orang. Dengan kepercayaan

Inilah, dahulu Rasulullah SAW menyulam kesuksesan, dan merajut keberhasilan. Kepercayaan adalah salah satu bentuk nyata dari keberhasilan sebuah positif thingking seseorang. Positif thinking adalah sebuah upaya untuk melihat sesuatu dari sisi positifnya. Segala sesuatu pasti tidak sempurna, kecuali Allah SWT.

Oleh karena itu kalau kita terus mencari ketidak sempurnaan akan sesuatu, maka pasti akan kita dapatkan. Akan tetapi mencari ketidak sempurnaan adalah salah satu jalan kita mendapatkan kerugian dan kegagalan. Dan perilaku ini menjadi salah satu penyebab hilangnya sebuah kesempatan besar.

Begitu pula dengan kepercayaan yang dimiliki oleh seorang ayah dari anak-anaknya. Ketika mereka masih kecil, mereka percaya bahwa kekuatan otot ayahnya akan mampu menopang beban berat yang dimilikinya. Mereka percaya bahwa ayahnya adalah sosok yang mampu membimbing jalan hidupnya ke arah yang benar dan tepat. Sehingga ketika anak-anak diajak ke suatu arah kebaikan, mereka tetap percaya kepadanya. Tidak bisa dipungkiri kepercayaan selalu membutuhkan patner. Dan patner sang ayah adalah anak-anaknya.

Membangun kepercayaan perlu tumpukan kebaikan. Bahkan terkadang harus merasakan penderitaan dan ketidak berdayaan. Dan tidak jarang harus berhadapan dengan ide-ide orang lain yang menentangnya. Berhadapan dengan tarikan-tarikan yang lebih menarik bagi anak-anak dari pada keinginan baik ayahnya. Membangun kepercayaan berarti bersiap untuk berkorban. Berat memang, tapi kita perlu kepercayaan untuk menegakkan kehidupan. Ada pepatah yang dapat mengingatkan kita akan sifat kepercayaan ini, “Trust is the hardest thing to find and the easiest to lose.” (kepercayaan adalah hal yang paling sukar didapat namun paling mudah hilang).

Ketika kepercayaan anak-anak ada di pundak sang ayah, maka tidak mustahil ia akan mudah menasehatinya seperti ketika Rasulullah SAW menasehati Ibnu Abbas RA ketika kecil. Pintu nasehat yang dimiliki oleh anak-anaknya akan terbuka lebar bagi apapun yang datang dari ayahnya.

Dari sahabat Ibnu Abbas ia berkata: Suatu hari aku membonceng Nabi SAW, maka beliau bersabda kepadaku: ”Wahai nak, sesungguhnya aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (syariat) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (syariat) Allah, niscaya engkau akan dapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa di hadapanmu. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah, bila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah (yakinilah) bahwa umat manusia seandainya bersekongkol untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu, dan seandainya mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain dengan suatu hal yang telah Allah tuliskan atasmu. Al Qalam (pencatat takdir) telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering.” (Riwayat Ahmad, dan At Tirmizy)

Nah, jika kita ingin sukses sebagai ayah, mulailah dengan memperhatikan dan membangun satu kata, yaitu "kepercayaan" pada mereka. Silakan mencobanya.

Yusuf Muhammad Efendy, tinggal di San Francisco, Amerika.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 27 Juni 2012

Ayah Sutradara Shalat Jamaah untuk Keluarga


Hidup di negara seperti Amerika Serikat (AS), sangat sulit bisa merasakan suasana pengajian seperti layaknya saat saya masih di kampung halaman. Tak seperti di Indonesia di mana jumlah masjid di Paman Sam yang sangat terbatas. Dan kalaupun ada jaraknya terkadang sangat jauh dari rumah.

Apakah itu suatu kekurangan? Bisa ya, tapu juga bisa sebuah kenikmatan tersendiri yang Allah SWT berikan. Jauhnya masjid adalah kesempatan seorang ayah seperti saya bisa menyusun shalat jamaah lebih leluasa.

Bagi saya, kekurangan ini adalah berkah. Waktu shalat jamaah adalah waktu yang paling tepat bagi kami sekeluarga untuk memperbaiki misi dan tujuan bersama. Karena seiring dengan berjalannya waktu, adalah suatu kemungkinan bahwa arah, tujuan dan misi sebuah keluarga akan mengalami pergeseran.

Tujuan indah keluarga idaman yang menjadi bayangan semula ketika membangun keluarga, menjadi berubah dengan seiring perjalanan kehidupan berkeluarga.
Karenanya, memberikan keteladanan dengan cara mengajak anak melaksanakan shalat berjamaah di rumah adalah sebuah kesempatan emas dan sangat istimewa.

Sebab keteladanan yang baik ini akan membawa kesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti oleh anak dan yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak tak lain adalah orangtuanya.

Menjadi Imam

Ayah adalah seorang yang harus mampu menjadi imam keluarga, khususnya dalam jamaah shalat. Dengan senang atau tidak, seorang ayah harus mempersiapkan hafalan-hafalan al-Qurannya untuk dibaca dalam shalat jamaah yang ia tegakkan bersama keluarganya.

Karena itu peran seorang ayah adalah sangat penting untuk selalu memonitor jalannya misi dan tujuan keluarga. Ayah mempunyai posisi penting untuk menjadi pemimpin bagi istri dan anak-anaknya. Setelah shalat jamaah, usahakan ada tema pembicaraan yang lebih serius. Dimulai dari hal-hal yang kecil dan remeh temeh. Dengarkan cerita anak saat seharian di sekolah, dengarkan keluhan istri selama berada di rumah menunggu kita, selipkan kata–kata hikmah, untuk belajar dari kehidupan.

Rasulullah SAW memerintahkan agar orangtua dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Dalam hal keteladanan shalat, pada tahap awal, keteladanan yang dapat dicontoh oleh anak adalah dengan gerakan-gerakan shalat.

Seorang ayah perlu mempelajari gerakan shalat yang sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga anak akan mendapatkan contoh gerakan shalat yang benar dari ayahnya. Semakin sering anak usia dini mendapatkan stimulasi tentang gerakan shalat --apalagi diiringi dengan pengarahan tentang bagaimana gerakan yang benar secara berulang-ulang-- maka anak semakin mampu melakukannya.

Pada tahap berikutnya keteladanan yang bisa diberikan seorang ayah adalah bacaan al-Qur’an di dalam shalat dengan suara yang terdengar oleh anak. Selain mendapatkan stimulasi gerakan shalat anak juga bisa belajar dari bacaan shalat.

Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Ayah harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas (golden age) pada anak mereka. Pengarahan tentang bagaimana tata cara shalat yang benar kita ajarkan kepada anak setelah proses shalat berlangsung.

Dalam tahap lanjut, anak tidak hanya bisa meniru gerakan shalat, tapi juga memiliki kebanggaan untuk menggunakan simbol-simbol islami baik dalam ucapan maupun perilaku dalam shalatnya dan sebagainya.

Perkembangan kemampuan anak melakukan gerakan shalat adalah hasil dari pematangan proses belajar yang diberikan. Karena itu hindarkan pemaksaan pada mereka.

Pemaksaan latihan kepada anak sebelum mencapai kematangan hanya akan mengakibatkan kegagalan atau setidaknya ketidakoptimalan hasil.

Pengalaman dan pelatihan akan mempunyai pengaruh pada anak bila dasar-dasar keterampilan atau kemampuan yang diberikan telah mencapai kematangan. Sehingga anak akan menikmati gerakan shalat dengan sendirinya.

Shalat jamaah adalah sangat tinggi nilainya dan sangat besar pahalanya. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda "Shalat Jamaah lebih utama dua puluh tujuh kali dibanding shalat sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Dari Abu Sa'id Al Khudri RA, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Shalat berjama'ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh lima derajat."(HR. Bukhari)

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim keutamaan shalat jamaah adalah 27 kali dari shalat sendiri.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Shalat jama'ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian."(HR. Muslim)

Keutamaan shalat jamaah ini menjadi hal yang penting yang bisa juga disampaikan kepada anak. Salah satu kunci kesuksesan adalah ketika kita mampu menjaga kwalitas hidup kita. Kwalitas hidup kita akan menjadi meningkat 25 sampai 27 kali ketika selalu menjaga shalat jamaah ini. Bahkan dalam hadist yang lain, shalat jamaah ini merupakan salah satu sarana untuk menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat pelakunya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

“Maukah kalian untuk aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudlu pada sesuatu yang dibenci (seperti keadaan yang sangat dingin pent), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath.”(HR. Muslim)

Hafalan al-Quran

Ajaklah anak-anak melakukan shalat jamaah bersama-sama di rumah atau di masjid. Biasakan dengarkan mereka dengan bacaan-bacaan al-Quran sang ayah. Karena itu seorang ayah perlu untuk memperbanyak hafalan al-Qurannya.

Setelah shalat jamaah selesai, suasana yang masih khusuk adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan kemuliaan ajaran agama Islam.

Dalam riwayat Utsman Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa shalat isya` berjama'ah, seolah-olah ia shalat malam selama separuh malam, dan barangsiapa shalat shubuh berjamaah, seolah-olah ia telah shalat seluruh malamnya.”(HR. Muslim)

Percayalah, dengan kebiasaan shalat berjamaah ini akan menumbuhkan rasa sakinah mawaddah dan rahmah di dalam atmosfir keluarga.

Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah hadist dari Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan tercela dan mungkar maka orang itu tidak akan bertambah apapun dari sisi Allah kecuali bertambah jauh.”

Dengan shalat berjamaah, keluarga tidak saja mendapatkan jaminan kehidupan dari Allah SWT, ayah pun mampu membangun hubungan yang harmonis dengan anggota keluarga, sehingga hubungan keluarga tidak terbatas oleh jasad saja tetapi juga diwarnai oleh hubungan kecintaan ruhani. Mencintai ayah sebagai pemimpin keluarga, dan mencintai anak sebagai bagian dari keluarga karena Allah SWT.

Suasana cinta semacam ini akan menumbuhkan ketenangan dan ketentraman hati, membentuk keluarga yang penuh dengan kebahagiaan dan keberkahan.

Shalat jamaah menjadi ikatan yang kuat yang akan mengikat anggota keluarga satu sama lain. Keasyikan suasana shalat berjamaah, menjadi kerinduan setiap anggota keluarga.

“Sungguh akan terurai ikatan (agama) Islam itu satu demi satu! Apabila terurai satu ikatan, orang-orang pun bergantung pada ikatan berikutnya. Ikatan yang pertama kali lepas ialah hukum, sedangkan yang terakhir kali lepas ialah shalat.” (HR. Ahmad).

Dan jangan lupa juga bahwa di dalam shalat jamaah inilah para Malaikat membela keluarga-keluarga yang menegakkannya. Ketika anak-anak kita mengumandangkan adzan dan iqamat maka para Malaikat akan bersama-sama dengan anak-anak kita.

"Barangsiapa shalat di sebidang tanah, niscaya malaikat shalat di sebelah kanan dan kirinya. Jika ia mengumandangkan adzan dan iqamat, atau iqamat saja, niscaya para Malaikat shalat di belakangnya seperti gunung.”(HR. Muwatha’ Malik).

Ketika bacaan amin dari imam dan makmun bersamaan dengan bacaan para Malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni-Nya.

"Jika salah seorang dari kalian 'Amiin' dan para malaikat yang ada di langit juga membaca 'Amiin', lalu bacaan salah satunya bersamaan dengan bacaan yang lain, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari)

Begitu pula ketika anak-anak kita membaca kalimat Rabbana walakal hamdu setelah rukuk, dan bacaan itu bersamaan dengan bacaan para Malaikat, maka dosa yang telah lalu pun akan diampuninya.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "malaikat malam dan malaikat siang secara bergantian menjaga kalian, dan mereka berkumpul pada waktu shalat 'ashar dan shalat subuh, kemudian malaikat yang menjaga kalian di malam hari naik ke langit dan Allah menanyai mereka -sekalipun Dia paling tahu terhadap keadaan mereka- bagaimana kalian tinggalkan para hamba-Ku? 'Para malaikat menjawab, 'Kami tinggalkan saat mereka sedang melaksanakan shalat, dan kami datangi mereka juga saat melaksanakan shalat'." (HR. Bukhari)

Siapa yang keluarganya mau dibela oleh para Malaikat Allah? Perbanyaklah shalat berjamaah dengan keluarga Anda. Kini saatnya memulai belajar menjadi seorang ayah sekaligus seorang imam yang baik. Silakan mencoba!

Yusuf Muhammad Efendy, tinggal di San Francisco, Amerika.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 26 Juni 2012

Didiklah Anak Sedari Dini Hari


Sejak dimulai dari pemilihan bibit bagi sang calon Ibu dan pemilihan bagi sang calon ayah, sejak semula, semua pasangan sudah ada niat mencari dan menyiapkan bibit yang unggul, sehat, baik dan shalih.

Ketika semua orang telah memiliki pasangan dan dikaruniai calon bayi, benih itu dipupuk, dijaga, diberi makan yang teratur. Diajarkan mengaji sejak dalam kandungan dengan suara merdu sang ibu setiap saat, juga makanan jasmani dan ruhaninya melalui sikap dan tingkah laku orangtua (ortu).

Ia harus diberi makanan pencerdas otak sejak awal kandungan, akhlaq mulia dengan prilaku sang Ibu. Dilarang membiasakan kata-kata kotor penuh nada ejekan atau hinaan dari sang ibu dimulai dari anak dalam kandungan, agar sang anak kelak tak terbiasa mendengarkannya.

Para ibu, juga dilarang ada hati yang sombong, angkuh, kikir, karena jiwa sang Ibu berpengaruh pada sang bayi ketika ia hamil.

Para ibu, juga diperintahkan sebaik mungkin menghindari penyakit-penyakit hati, namun melakukan kebaikan hati, karena getaran dada dirasakan sang bayi
Semua ajaran di atas telah tercantum dalam firman Allah. Termasuk dalam Q.S Al-Baqarah, Luqman Al Hujuraat, dan surah lain-lainnya.

Setelah ia lahir disusukan dengan ASI yang murni sampai berumur 2 tahun penuh (sebagaimana ajaran Islam).

Ketika anak berumur 7 tahun, Islam memerintahkan untuknya shalat. Jika telah berumur 10 tahun, ia bahkan boleh dipukul, tapi pukulan penuh didikan bukan menyakiti.

Ketika anak sudah mulai bisa membedakan yang baik dan yang buru, maka Islam meminta agar anak diajarkan berenang, memanah, naik kuda, dll.

Anak juga harus diajarkan mengenal Allah Ta’ala, Nabinya, serta agamanya.

Anak Ibarat Pohon

Kenapa sejak kecil anak diajarkan shalat dan tahu agamanya? Ini adalah pendidikan ruhaninya kelak agar dewasa dia bisa mandiri, tahu apa yang harus dilakukannya saat menghadapi segala macam permasalahan.

Kenapa sejak kecil anak juga harus diajarkan memanah, berenang, naik kuda dan sebagainya dari olahraga? Lihatlah bagaimana sikap seorang pemanah dari sisi saat ia memanah dengan tepat, lihatlah orang yang berenang dalam menjaga keseimbangan tubuhnya, saat orang naik kuda mengendalikan kuda yang larinya kencang sekalipun. Jadi bukan dari sisi permainan itu saja diambil hikmahnya, tetapi substansi hikmah di belakang dari semua itu.

Mendidik anak yang sudah besar, itu sama saja kita mencoba meluruskan pohon bengkok sejak semula. Karenanya, akan sangat sulit sekali lurusnya. Kalau diluruskan dengan paksaan ia akan patah. Karena itu selagi dia masih kecil, dan masih bisa dibentuk, maka bentuklah sedari dini hari, jangan sampai siang hari, nanti kesiangan, apalagi senja hari, nanti rabun senja. Lebih parah kalau dibentuk sudah malam hari, mata udah rabun, gelap, pandangan dan samar-samar.

Orangtua kalau sudah dibentuk ketika tuanya tentu akan sulit, karena pandangan di malam hari juga sudah pada gelap. Orang siap-siap mau tidur, waktu malam hari hanyalah banyak berdo’a dan beribadah saja. Seperti begitulah orangtua, seharusnya masa-masanya sudah dekat ke kubur siap-siap menghadapi maut.

Jangankan yang sudah tua, masih muda saja kita selalu siap-siap ke kubur, itu sebabnya pohon itupun disirami sejak dari dalam tanah, sejak dari bibitnya. Kalau pohon sudah rindang, sudah tua, sudah tinggi yang diharapkan hanyalah siraman hujan dari langit, dan hidayah dari Allah ta’a’la.

Siklus kehidupan, rotasi alam, akan seperti itu ke itu saja adanya. Sunnatullah, dari bibit, menjadi benih, tunas kecil, pohon remaja dan lagi ranum-ranumnya, dan akhirnya berbuah.

Tatkala dia berbuah, dia menghasilkan biji, benih yang baru untuk penerus kehidupannya. Kehidupannya tadi digantikan lagi oleh benih yang baru, begitulah seterusnya.

Lantas, dilihat dari perputaran siklus kehidupan tanaman tadi, apakah tidak terpikir oleh kita, bagaimana sebenarnya hakikat jati diri kita?

Buat apa kita hidup, dari mana asal kita hidup, untuk apa kita hidup, pada akhirnya ke mana jalan akhir hidup kita?

Bibit, benih yang kita tanam tadi, setelah sekian tahun baru kita memetik hasilnya. Saat kita petikpun tak begitu lama, datang masa akhir hayat kita. Lantas, sudah siapkah diri kita menghadapi kehidupan nan abadi dan kekal di akhirat nanti?

Waktu yang diberikan buat bekal itu hanyalah sedikit sekali, sementara yang akan kita capai dan akan kita jalani kelaknya adalah sangat terlalu panjang, apakah tidak terfikir oleh kita untuk mempersiapkan segala sesuatunya buat diri kita sendiri dalam menghadap illahi?

Sudahkah kita menghitung amalan dan dosa-dosa kita? Masa akhirat, hari pembalasan masa kiamat adalah masa-masa sang anak lupa pada ibunya, ibu sendiri lupa pada janin yang ada dalam kandungannya, semua lupa pada siapa, yang difikirkannya hanyalah kondisi nasib dirinya sendiri.

Masa itu tak ada naungan dan pertolongan selain naungan dan pertolongan Allah Ta’ala semata.

Namun kenapa di saat-saat kita sadar diri, masih muda, masih kaya, masih memiliki akal sehat, masih punya banyak waktu, kita jarang berinteraksi dan memohon hanya padaNya?

Tetapi kita memohon pada selainNya dalam bentuk apapun itu, kita sadari ataupun tak kita sadari. Termasuk kesalahan-kesalahan kita dalam mendidik anak.

Lantas, apakah tidak ada rasa malu dalam diri kita, di saat kita nanti berada dalam kondisi serba sulit di hari akhirat, kita baru datang kepada Allah Ta’ala untuk meminta perlindungan?

Cobalah saja kita membayangkan diri kita.

Bagaimana perasaan kita, andaikan ada teman, saudara, istri, suami, anak atau siapa saja, di saat dia senang, bahagia dia lupa sama kita, dia malah ingat sama yang lainnya. Tidak tahunya di saat-saat dia berada dalam kesulitan dia datang ke kita, mengadu pada kita.

Allah juga maha pencemburu. Sungguh tak masuk diakal yang waras dan cerdas, apabila kita datang ke Allah di saat-saat kita berada dalam kesulitan. Semata, saat sehat, saat bahagia, saat kaya kita tak ingat padaNya. Lupa ibadah, lupa berinfaq, lupa memberi padaNya, lupa mengingatNya.

Manusia saja tidak bisa dibegitukan, apatah lagi Allah yang maha kuasa, maha pencemburu.

Mari sama-sama kita merenungkan semua ini. Semua bermula dari benih, bibit, anak, karena itu pantaslah anak kita katakan anugerah. Karena dari perkembangan bibit, benih, anaklah, kita dapat mengambil hikmah besar dari kehidupan ini, untuk mencapai tujuan akhir hidup kita, yakni RidhaNya semata, tak lebih dari itu.

Dan sesungguhnya, Allah telah memperlihatkan pada kita semua semua ilmunya. ALlah bahkan memilima melihat dengan “Mata Hati”, bukan “Mata Telanjang”. Sayangnya, kita sering alpa dalam masalah ini.

وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?.” [QS.Adz Zaariyah: 21]

Semoga, kita semua mampu menjadi orangtua yang peka, yang bisa melihat dengan “Mata Hati”. *

Rahima Rahim, Ibu rumah tangga, kuliah Jurusan Ushuluddin di Universitas al Azhar As-Syarif, berdomisili di Bukittinggi.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 25 Juni 2012

Rasa Bahagia, Jika Bisa Membahagiakan Istri


Banyak pasangan bertanya, bagaiamana tips agar kita dapat membahagiakan pasangan kita? Kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut bahagia. Itulah kuncinya. Impilikasinya, agar kita bahagia, carilah orang yang paling dekat dengan kita dan bahagiaakanlah mereka. Setelah itu, barulah kita akan merasa bahagia. Sesungguhnya bahagia itu bukan "benda" yang akan berkurang bila diberikan, tetapi ia seumpama cahaya yang semakin "diberikan" akan bertambah sinar terangnya. Ada kata orang bijak pandai, “dengan menyalakan lilin ke orang lain, lilin kita tidak akan padam... tetapi kita akan mendapat lebih banyak cahayanya.”

Siapakah orang –orang terdekat dan yang paling layak kita berikan kebahagiaan? Selain kedua ibu-bapa, maka para suami harus membahagiaan istrinya. Karena ialah yang paling utama harus mendapatkan kebahagiaan itu. Jika istri kita tidak merasa bahagia, jangan harap kita dapat membahagiakan orang lain. Dan paling penting, jika istri sudah menderita itu juga pertanda kita juga akan ikut menderita. Ingat, kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut menikmati kebahagiaan.

Apakah langkah pertama untuk membahagiakan istri? Pertama, hargailah kehadirannya. Rasakan benar-benar bahwa si dia adalah anugerah Allah yang paling berharga. Jodoh kita itu merupakan anugrah yang telah dikirim Allah khusus sebagai teman hidup kita sepanjang masa ketika hidup di dunia ini. Karena itu, jangan pernah sia-siakan ia.

Ingatlah bahwa yang paling berharga di dalam rumah kita bukannya perabot, bukan peralatan eletronik, komputer ataupun barang-barang antik yang lain. Yang paling berharga ialah manusianya – istri atau suami kita itu. Itulah" modal insan" yang sewajarnya lebih kita hargai daripada segala-benda yang mudah rusak itu. Masalahnya, benarkah kita telah menghargai istri melebihi barang-barang berharga di rumah kita?

Sayang sekali, kadang lain difikiran lain pula yang dirasa. Coba renungkan, berapa banyak para suami yang lebih prihatin keadaan kendaraan mewahnya atau barang-barang berharganya dibanding perasaan istrinya. Batuk istri yang berpanjangan seolah tidak ikut ia (suami) rasakan, dibanding "batuk" kendaraan pribadinya. Jika mobilnya suaranya aneh, ada sedikit kerusakan, para suami cepat-cepat membawanya ke tempat resvice mobil. Sementara jika sakit istrinya, ia tak segera buru-buru mengantarkan ke dokter atau rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan.

Bila kendaraan terdengar/terasa sedikit 'aneh', cepat-cepat dibawa ke bengkel, namun jika istrinya yang batuk-batuk, malah dibiarkan. Alasannya, itu batuk biasa, atau tanda badan sudah tua.

Banyak pria memilih menjadi 'workoholic'. Ia bekerja siang, malam, tak kenal cuti dan istirahat. Bila ditanya mengapa ia begitu sibuk? Dia menjawab, “ini demi anak dan istri.” Padahal, ketika pulang ke rumah, waktunya juga bukan untuk anak dan istrinya. Yang ada, ia justru mengabaikan istri.

Ada suami yang hobi memancing setiap akhir pekan. Sementara di saat yang sama, ia membiarkan anak-anak dan istrinya kesepian di rumah. Padahal saat itulah waktu luang yang mereka tunggu selama ini agar bisa berasama-sama setelah semua harinya dihabiskan di kantor dan tempat kerja.

Di sekitar kita banyak orang aneh. Ada yang mencari duit sampai tidak sempat menikmati duit. Bila duit sudah terkumpul, kesehatan sudah tergadai, rumah tangga sudah berkecai, istri malah ikut terabai.

Jadi bagaimana kita dapat mengharagai pasangan kita? Insya-Allah, bila ada kemauan pasti saja ada jalan. Dunia akan menyediakan jalan kepada orang yang bersungguh-sungguh. Kata orang, kasih, cinta dan sayang seumpama aliran air, senantiasa tahu ke arah mana ia hendak mengalir. Mulakan dengan memandangnya dengan perasaan kasih, mungkin wajah istri kita sudah berkerut, tetapi rasakanlah mungkin separuh "kerutan" itu karena memikirkan kesusahan bersama kita. Mungkin uban telah penuh di kepalanya, tetapi uban itu "tanda bukti" pengorbanannya dalam membina rumah tangga bersama kita. Itulah pandangan mata hati namanya.

Kalau dulu semasa awal bercinta, pandangan kita dari mata turun ke hati. Tetapi kini, setelah lama bersamanya, pandangan kita mesti lebih murni. Tidak dari mata turun ke hati lagi, tetapi sudah dari hati "turun" ke mata. Jika saat pertama kita terpaut karena "body", kinia yang kita lihat lebih jauh lagi, namanya “budi”. Yang kita pandang bukan lagi urat, tulang dan daging lagi... tetapi suatu yang murni dan hakiki – kasih, kasihan, cinta, sayang, mesra, ceria, duka, gagal, jaya, pengorbanan, penderitaan – dalam jiwanya yang melakarkan sejarah kehidupan berumah tangga bersama kita!

Daripada pandangan mata hati itulah lahirlah sikap dan tindakan. Love is verb, cinta itu tindakan, kata penyair.

Para suami kaya pulang bersama cincin permata untuk menghargai si istri. Atau petani hanya membawa sebiji mangga untuk dimakan bersama sang "permaisuri". Buruh yang pulang bersama keringat disambut senyuman dan dihadiahkan seteguk air sejuk oleh istri tentunya lebih bahagia dan dihargai oleh seorang jutawan yang disambut di muka pintu villanya tetapi hanya oleh seorang "orang –orang yang digaji".

Begitulah ajaibnya cinta yang dicipta Allah, ia hanya boleh dinikmati oleh hati yang suci. Ia terlalu mahal harganya. Intan, permata tidak akan mampu membeli cinta!

Hargailah sesuatu selagi ia masih di depan mata. Begitu selalu pesan cerdik-pandai dan para pujangga. Malangnya, kita selalu lepas pandang. Sesuatu yang 'terlalu' dekat, kadang lebih sukar dilihat dengan jelas. Sementara yang jauh terkesan jelas. Istri di depan mata, tidak dihargai, tapi orang lain nun jauh dipuji-puji. Kajian menunjukkan bahwa para suami di Amerika lebih banyak meluangkan masa menonton TV daripada bercakap dengan istrinya. Bayangkanlah, tiga jam menonton TV bersama tanpa sepatah-katapun pada istri atau keluarga, apa untungnya? Padahal istri dan anaknya duduk bersebelahan dengannya hanya beberapa inci.

Bahkan jika kita di rumahpun, kadang lebih sibuk ber SMS dengan orang lain. Malam SMS kadang, SMS ke teman lebih banyak dibanding jika ia SMS dengan istri jika sedang berada di luar atau di kantor. No news is a good news. Begitu seharusnya , rasa di hati kita.

Hidup terlalu singkat. Hidup hanya sekali. Dan yang pergi tak akan pernah kembali lagi. Yang hilang, mungkin tumbuh lagi... Tetapi tidak semua perkara akan tumbuh seperti semula. Apakah ibu-bapa yang 'hilang' akan berganti? Apakah anak, istri, suami yang 'pergi'... akan pulang semula? Jadi, hargailah semuanya selama segalanya masih ada di dekat kita. Pulanglah ke rumah dengan ceria, tebarkan salam, lebarkan senyuman. Mungkin esok, anda tidak 'pulang' atau tidak ada lagi si dia yang selama ini begitu setia menunggu kita di balik pintu. Mungkin Anda 'pergi' atau dia yang 'pergi'. Karenanya, hargailah nyawa dan raganya dengan dengan perasaan sayang dan cinta. Sebab hakekatnya kita tidak akan bahagia, selagi orang di sisi kita tidak bahagia!*

Pahrol Mohamad Juoi, penulis dan motivator parenting, tinggal di Malaysia.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Bulan Ramadhan. Copyright 2011 All Rights Reserved Bulan Ramadhan Di Facebook by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com